/* Show Table of Contents

wafiul@yahoo.co.id

welcome

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

ber...

Hai semuanya tolong komentarin doank

konsrevasi


Fauna Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Harimau Sumatra, subspesies harimau terkecil yang hanya ada di Indonesia

Fauna Indonesia memiliki keanekaragaman yang tinggi karena wilayahnya yang luas dan berbentuk kepulauan tropis[1]. Keanekaragaman yang tinggi ini disebabkan oleh Garis Wallace, membagi Indonesia menjadi dua area; zona zoogeografi Asia, yang dipengaruhi oleh fauna Asia, dan zona zoogeografi Australasia, dipengaruhi oleh fauna Australia[2]. Pencampuran fauna di Indonesia juga dipengaruhi oleh ekosistem yang beragam diantaranya: pantai, bukit pasir, estuari, hutan bakau, dan terumbu karang.

Masalah ekologi yang muncul di Indonesia adalah proses industrialisasi dan pertumbuhan populasi yang tinggi, yang menyebabkan prioritas pemeliharaan lingkungan menjadi terpinggirkan[3]. Keadaan ini menjadi semakin buruk akibat aktivitas pembalakan liar, yang menyebabkan berkurangnya area hutan; sedangkan masalah lain, termasuk tingginya urbanisasi, polusi udara, manajemen sampah dan sistem pengolahan limbah juga berperan dalam perusakan hutan.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Asal fauna Indonesia

Garis Wallace, membagi fauna Indonesia ke dua kategori

Asal mula fauna Indonesia sangat dipengaruhi oleh aspek geografi dan peristiwa geologi di benua Asia dan Australia[4]. Pada zaman purba, pulau Irian (New Guinea) tergabung dengan benua australia.

[sunting] Hughasiusilum

Nama dari benua Ausralia 12.000.000 tahun yang lalu untuk sebagai landasan benua Australia yang akan dibentuk dari batuan yang umurnya muda yaitu kurang dari 2 juta tahun.

Benua Australia membentuk superbenua yang dinamakan superbenua selatan Gondwana. Superbenua ini mulai terpecah 140 juta tahun yang lalu, dan daerah New Guinea (yang dikenal sebagai Sahul) bergerak menuju khatulistiwa. Akibatnya, hewan di New Guinea berpindah ke benua Australia dan demikian pula sebaliknya, menimbulkan berbagai macam spesies yang hidup di berbagai area hidup dalam ekosistem. Aktivitas ini terus berlanjut dua daerah ini benar-benar terpisah.

Di lain pihak, pengaruh benua Asia merupakan akibat dari reformasi superbenua Laurasia, yang timbul setelah pecahnya Rodinia sekitar 1 milyar tahun yang lalu. Sekitar 200 juta tahun yang lalu, superbenua Laurasia benar-benar terpisah, membentuk Laurentia (sekarang Amerika) dan Eurasia. Pada saat itu, sebagian wilayah Indonesia masih belum terpisah dari superbenua Eurasia. Akibatnya, hewan-hewan dari Eurasia dapat saling berpindah dalam wilayah kepulauan Indonesia, dan dalam ekosistem yang berbeda, terbentuklah spesies-spesies baru.

Pada abad ke-19, Alfred Russel Wallace mengusulkan ide tentang Garis Wallace, yang merupakan suatu garis imajiner yang membagi kepulauan Indonesia ke dalam dua daerah, daerah zoogeografis Asia dan daerah zoogeografis Australasia (Wallacea)[5]. Garis tersebut ditarik melalui kepulauan Melayu, diantara Kalimantan (Borneo) dan Sulawesi (Celebes); dan diantara Bali dan Lombok.[6] Walaupun jarak antara Bali dan Lombok relatif pendek, sekitar 35 kilometer, distribusi fauna di sini sangat dipengaruhi oleh garis ini. Sebagai contoh, sekelompok burung tidak akan mau menyeberang laut terbuka walaupun jaraknya pendek[6].

[sunting] Paparan Sunda

Gajah Kalimantan, subspesies Gajah Asia

Hewan-hewan di daerah paparan Sunda, yang meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan dan pulau-pulau kecil yang mengelilinginya, memiliki karakteristik yang menyerupai fauna di Asia. Selama zaman es, setelah Laurasia terpecah, daratan benua Asia terhubung dengan kepulauan Indonesia. Selain itu, kedalaman laut yang relatif dangkal memungkinkan hewan-hewan untuk bermigrasi ke paparan Sunda. Spesies-spesies besar seperti harimau, badak, orangutan, gajah, dan leopard ada di daerah ini, walaupun sebagian hewan ini sekarang dikategorikan terancum punah. Selat Makassar, laut antara Kalimantan dan Sulawesi, serta selat Lombok, antara Bali dan Lombok, yang menjadi pemisah dari Garis Wallace, menandakan akhir dari daerah paparan Sunda.

[sunting] Mamalia

Paparan Sunda memiliki spesies berjumlah total 381. Dari jumlah itu, 173 di antaranya merupakan spesies endemik daerah ini.[7] Sebagian besar dari spesies-spesies ini terancam keberadaannya. Dua spesies orangutan, Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan Sumatra) termasuk dalam daftar merah IUCN. Mamalia terkenal lain, seperti kera berhidung panjang Kalimantan (Nasalis larvatus), badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) juga sangat terancam jumlah populasinya.

[sunting] Burung

Menurut Konservasi International, sebanyak 771 spesies unggas terdapat di paparan Sunda. Sebanyak 146 spesies merupakan endemik daerah ini. Pulau Jawa dan Bali memiliki paling sedikit 20 spesies endemik, termasuk Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan Cerek Jawa (Charadrius javanicus).

[sunting] Reptil dan Amfibia

Sebanyak 449 spesies dari 125 genus reptil diperkirakan hidup di paparan Sunda. Sebanyak 249 spesies dan 24 genus di antaranya adalah endemik. Tiga famili reptil juga merupakan endemik di wilayah ini: Anomochilidae, Xenophidiidae and Lanthanotidae. Famili Lanthanotidae diwakili oleh earless monitor (Lanthanotus borneensis), kadal coklat Kalimantan yang sangat langka dan jarang ditemui. Sekitar 242 spesies amfibia dalam 41 genus hidup di daerah ini. Sebanyak 172 spesies, termasuk Caecilian dan enam genus adalah endemik.

[sunting] Ikan

Sebanyak hampir 200 spesies baru ditemukan di daerah ini dalam sepuluh tahun terakhir. Sekitar 1000 spesies ikan diketahui hidup di dalam sungai, danau, dan rawa-rawa di paparan Sunda. Kalimantan mempunyai sekitar 430 spesies, dan sekitar 164 di antaranya diduga endemik. Sumatra memiliki 270 spesies, sebanyak 42 di antaranya endemik.[8] Ikan arwana emas (Scleropages formosus) yang cukup terkenal merupakan contoh ikan di daerah ini.

[sunting] Wallacea

Wallacea merupakan daerah transisi biogeografis antara paparan Sunda ke arah barat, dan daerah Australasian ke arah timur. Daerah ini meliputi sekitar 338.494 km² area daratan, terbagi ke dalam banyak pulau kecil. Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan sebagian Nusa Tenggara merupakan bagian dari daerah ini. Karena faktor geografinya, daerah ini terdiri dari banyak jenis hewan endemik dan spesies fauna yang unik.

[sunting] Mamalia

Wallacea mempunyai sejumlah 223 spesies asli mamalia. Sebanyak 126 di antaranya merupakan endemik daerah ini. Sebanyak 124 spesies kelelawar bisa ditemukan di daerah ini. Sulawesi, sebagai pulau terbesar di daerah ini memiliki jumlah mamalia yang paling banyak. Sejumlah 136 spesies, 82 spesies dan seperempat genus di antaranya adalah endemik. Spesies yang luar biasa, seperti anoa (Bubalus depressicornis) dan babi rusa (Babyrousa babyrussa) hidup di pulau ini. Sedikitnya tujuh spesies kera (Macaca spp.) dan lima spesies tarsius (Tarsius spp.) juga merupakan hewan khas daerah ini.

[sunting] Burung

Sebanyak 650 spesies burung bisa ditemui di Wallacea, 265 spesies di antaranya adalah endemik. Di antara 235 genus yang ada, 26 di antaranya merupakan endemik. Sejumlah 16 genus hanya terdapat di Sulawesi dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Kira-kira, sebanyak 356 spesies, termasuk 96 spesies burung endemik hidup di Pulau Sulawesi. Salah satunya adalah maleo (Macrocephalon maleo), jenis burung yang terancam punah dan hanya ditemukan di sekitar Wallacea.

[sunting] Reptil dan Amfibia

Dengan 222 spesies, 99 di antaranya endemik, Wallacea memiliki jenis reptil yang sangat beragam. Di antaranya adalah 118 spesies kadal yang 60 di antaranya adalah endemik; 98 spesies ular, 37 spesies di antaranya adalah endemik; lima spesies kura-kura, dua spesiesnya merupakan endemik; dan satu spesies buaya, buaya Indo-Pasifik (Crocodylus porosus). Tiga genus endemik ular yang hanya dapat ditemukan di wilayah ini: Calamorhabdium, Rabdion, dan Cyclotyphlops. Salah satu reptil yang mungkin paling terkenal di Wallacea adalah komodo (Varanus komodoensis), yang diketahui keberadaannya hanya di Pulau Komodo, Padar, Rinca, dan tepi barat Flores.

Sebanyak 58 spesies amfibia khas dapat ditemukan di Wallacea. Sebanyak 32 spesies di antaranya adalah endemik. Ini menggambarkan kombinasi elemen katak daerah Indo-Melayu dan Australasia yang mempesona.

[sunting] Ikan

Ada sekitar 310 spesies ikan tercatat dari sungai-sungai dan danau-danau Wallacea. Sebanyak 75 spesies di antaranya adalah endemik. Walaupun masih sedikit yang dapat diketahui mengenai ikan ikan dari Kepulauan Maluku dan Kepulauan Sunda Kecil, 6 spesies diketahui sebagai endemik. Di pulau Sulawesi, ada 69 spesies yang diketahui, 53 di antaranya adalah endemik. Danau Malili di Sulawesi Selatan, dengan kedalamannya yang kompleks dan arusnya yang deras memiliki paling sedikit 15 jenis ikan telmatherinid endemik, dua di antaranya mewakili genus endemik, tiga endemik Oryzia, dua endemik halfbeaks, dan tujuh endemik gobie.

[sunting] Invertebrata

Terdapat sekitar 82 spesies kupu-kupu yang ada di daerah Wallacea, 44 spesies di antaranya adalah endemik. Sejumlah 109 spesies kumbang juga terdapat di sekitar daerah wilayah ini, 79 di antaranya adalah endemik. Satu spesies yang mengagumkan dan mungkin merupakan lebah terbesar di dunia, (Chalicodoma pluto) terdapat di utara Maluku. Serangga yang hewan betinanya bisa tumbuh sampai 4 cm ini, membangun sarang secara komunal pada sarang rayap di pepohonan hutan dataran rendah.

Sekitar 50 moluska endemik, tiga spesies kepiting endemik, dan sejumlah spesies udang endemik juga diketahui berasal dari Wallacea.

[sunting] Konservasi

Walaupun 45% daerah Indonesian masih belum berpenghuni dan ditutupi hutan tropis, pertumbuhan populasi Indonesia yang tinggi dengan industrialisasinya, secara perlahan mempengaruhi keberadaan fauna di Indonesia. Ditambah lagi, perdagangan hewan ilegal semakin menambah parah kondisi fauna Indonesia, termasuk di antaranya badak, orangutan, harimau, dan beberapa spesies amfibia[5]. Hingga 95% hewan yang dijual di pasar diambil langsung dari hutan dan bukannya melalui konservasi; dan lebih dari 20% hewan ini meninggal dalam perjalanan.[9]. Pada tahun 2003, World Conservation Union mencatat 147 spesies mamalia, 114 burung, 91 ikan dan 2 invertebrata termasuk dalam hewan-hewan yang terancam punah[9].

[sunting] Lihat pula

[sunting] Referensi

  1. ^ Indonesia’s Natural Wealth: The Right of a Nation and Her People. Islam Online.
  2. ^ Severin, Tim (23 Februari 1997). The Spice Island Voyage: In Search of Wallace. Great Britain: Abacus Travel. ISBN 0-349-11040-9.
  3. ^ Jason R. Miller (1997-01-30). "Deforestation in Indonesia and the Orangutan Population". TED Case Studies.
  4. ^ Indonesia - Flora and Fauna. Encyclopedia of the Nations. Encyclopedia of the Nations.
  5. ^ a b Indonesia. Conservation International. Conservation International.
  6. ^ a b Zubi, Teresa The Wallacea Line.
  7. ^ Whitten, Tony; Peter Paul van Dijk, Lisa Curran, Erik Meijaard, Peter Wood, Jatna Supriatna and Susie Ellis Sundaland. Diakses pada 26 Mei 2007
  8. ^ Kottelat, M.; Whitten, T. (23 Februari 1996). Freshwater biodiversity in Asia, with special reference to fish. The World Bank Technical Paper No. 343. Washington, D.C.: The World Bank.
  9. ^ a b Facts about Indonesian animals. ProFauna Indonesia.
[sembunyikan]
Bendera Indonesia Topik Indonesia Garuda Pancasila, Coat Arms of Indonesia.svg
READ MORE - konsrevasi

waviul


The window of earth, Grubug Sinkhole

Mungkin kita baru dengar istilah Biospeleologi. Ilmu tentang apa dan apa bedanya dengan biologi? Awal perkembangan ilmu ini adalah “speleologi” yaitu ilmu tentang perguaan yang bermula diusulkan oleh Emilie Riviere dengan mengusulkan istilah “speleology” yang berasal dari bahasa Yunani dari kata “spalion” yang berarti gua dan “logos” yang berarti ilmu.

Namun istilah ini oleh L. de Nussac dalam Essai de Speologi yang diterbitkan di Brive tahun 1892 mengusulkan merubah menjadi “spèologi”. Istilah ini kemudian di adopsi oleh E.G. Racovitza dan R. Jeannel dalam tulisan-tulisannya. Edward A. Martel berpendapat dalam bukunya yang terkenal “Les Abimes” bahwa “spèologi” kurang tepat karena lebih cenderung pada lorong-lorong buatan seperti tempat pemakaman Fir’aun di Mesir.

Awalnya, speleologi berarti ilmu tentang gua namun arti ini oleh B. Conde dianggap gagasan yang “antropomorfis” dan dia lebih sepakat pada pendapat Racovitza yang mengartikan ilmu yang mempelajari tentang dunia bawah tanah. Sehingga ilmu ini merupakan salah satu ilmu bumi termasuk di dalamnya geologi, geografi fisik dan geofisik. Saat ini yang akan dibahas lebih jauh adalah gua sebagai habitat tempat hidup makhluk hidup.

Biospeleologi dan perkembangannya

Arman Vire (1904) mengusulkan istilah “biospeologie” untuk sebuah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan bawah tanah. Ilmu ini benar-benar berawal pada pertangahan abad 19. Sejak saat itulah perkembangan ilmu ini berkembang dengan sangat pesat. Hasil penelitian saat itu berupa penyusunan jenis-jenis yang hidup di dalam gua. Beberapa makalah dan tulisan lebih banyak dicurahkan pada sistematik hewan-hewan dalam gua. Perkembangan berikutnya adalah membuat laboratorium bawah tanah yang telah mengawali era biospeologi eksperimen. Biospeologi pun akhirnya semakin berkembang dan istilah ini makin lama tidak digunakan. Akhirnya istilah “biospeleologi”. lebih banyak diterima dan lebih tepat dan digunakan sampai sekarang.

Biospeleologi di Indonesia

Biospeleologi memasuki Indonesia tidak banyak yang mengetahui secara pasti namun sejak jaman Belanda penelitian tentang hewan-hewan gua telah dimulai. Seperti oleh E. Jacobson (1912), S Leefmans (1930, 1933), Dammerman (1932) dan J.C. Van der Meer Mohr (1936) yang meneliti hewan-hewan gua di Tapanuli Sumatra. Sedikitnya ada beberapa hewan yang ditemukan seperti jangkrik (Perendacusta cavicola), kecoak gua (Symploce cavernicola), Bagauda cf. lucifugus, Reduvius cf. gua dan ngengat yang banyak ditemukan di dalam guano kelelawar Tinea palaechrysis. Leefmans lebih banyak meneliti hewan gua di Sulawesi Selatan khususnya Gua Mampu yang sangat terkenal dengan beberapa catatan hewan guanya.

Sejak saat itu banyak penelitian gua namun sangat sedikit yang meneliti tentang kehidupan gua sampai akhirnya peneliti Perancis pada tahun 1980-an datang untuk mengeksplorasi gua-gua di Sulawesi dan sekitarnya, sekaligus meneliti hewan yang hidup di dalamnya. Sejak saat itu perkembangan temuan jenis baru dan daftar jenis hewan gua semakin panjang dan semakin menarik secara taksonomi dan biogeografi.

Beberapa jenis baru telah ditemukan berkat penelitian biospeleologi di Indonesia. Jenis-jenis baru ini banyak ditemukan mulai era 80-an meskipun kebanyakan dikoleksi dan diteliti oleh orang asing. Peran peneliti Indonesia pada saat itu belum cukup besar. Namun siapapun yang meneliti, hasil yang diperoleh tetap menjadi suatu aset yang besar bagi perkembangan biospeleologi dan konservasi karst dan gua di Indonesia.

Peran biospelelogi dalam konservasi

Biospeleologi berperan penting dalam konservasi karst dan gua. Hasil-hasil penelitiannya menjadi faktor pertimbangan yang penting. Namun sayangnya hal ini belum banyak digunakan di Indonesia.

Sebagai contoh: satu jenis baru ditemukan di daerah Maros, Sulawesi Selatan dan sampai saat ini hanya ditemukan di Maros dan tidak ditemukan di daerah lain. Hal ini menjadi sangat penting mengingat satu jenis hewan gua mempunyai tingkat keendemikan tinggi karena terkadang hanya terdapat dalam satu gua atau satu sistem perguaan. Faktor lain, jenis hewan gua mempunyai jumlah populasi yang sangat kecil yang tentu saja tingkat ancaman kepunahan menjadi sangat besar.

Hal-hal yang mungkin kurang diperhatikanya keanekaragaman hayati gua sebagai pertimbangan konservasi di Indonesia adalah hewan-hewan yang kecil, akses ke ekosistem gua yang membutuhkan peralatan dan keahlian khusus, belum banyak orang yang mau menekuni dan sulit meyakinkan para pemegang kebijakan dari sesuatu hal yang jauh dari nilai ekonomi. Semoga dengan semakin berkembangnya biospeleologi di Indonesia akan semakin banyak kawasan karst atau gua yang dilindungi.

READ MORE - waviul

translet

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

bintang

shout


ShoutMix chat widget

waviul